HomeNewsSnapchat Menghadapi Masalah Menyusul Peringatan Penurunan Penghasilan

Snapchat Menghadapi Masalah Menyusul Peringatan Penurunan Penghasilan

Dan Ashmore, CFA

Pasar adalah tempat yang lucu. Snapchat mengalami hari terbaiknya tiga bulan lalu, dengan meroket 58% menyusul laporan laba yang mengejutkan untuk Q4 tahun 2021.

Pekan lalu, harga sahamnya kemudian mengalami hari terburuk, dengan penurunan mencapai 45%. Saham Snapchat diperdagangkan pada $ 12,79 per saham, turun 85% dari level tertinggi sepanjang masa yang dicapai September lalu ketika melonjak melewati $ 83 per saham.

Selamat bergabung, Snapchat

Beberapa ungkapan yang tidak ingin Anda dengar sebagai investor:

  • “peringatan penurunan penghasilan yang tidak terjadwal”
  • “(kami akan) meninjau pengeluaran untuk menemukan cara lain dalam menghemat biaya”
  • “(kami akan) mengevaluasi sisa anggaran 2022 kami”

Investor Snapchat mendapatkan wombo-combo dari semua ucapan tidak menyenangkan ini minggu lalu, dengan harga sahamnya segera turun sepertiga saat laporan penghasilan dirilis.

Perusahaan mengatakan dalam pengajuan pada hari Senin bahwa sejak mengeluarkan estimasi penghasilan pada 22 April – hanya satu bulan yang lalu – bahwa “lingkungan ekonomi makro telah memburuk lebih jauh dan lebih cepat dari yang diantisipasi”. Mereka tidak berbohong – pandangan sekilas pada portofolio saya yang anjlok adalah kepastikan yang saya butuhkan.

Fakta bahwa ini diikuti oleh peringatan bahwa penghasilan dan pendapatan akan “turun dari bawah batas bawah” estimasi penghasilan kuartal ini yang kemudian membuat investor segera menekan tombol JUAL. Tetapi apakah iklim makroekonomi yang diakui mengerikan merupakan alasan yang sah untuk masalah Snapchat tersebut?

CEO Evan Spiegel berpikir demikian, menegaskan dalam catatan bahwa fundamental bisnis Snapchat tetap “kuat”, dan bahwa “kenaikan inflasi dan suku bunga, masalah rantai pasokan, gangguan di sektor tenaga kerja, perubahan kebijakan platform, dampak perang di Ukraina dan masih banyak lagi” merupakan faktor yang harus disalahkan atas angka pertumbuhan iklan digital yang lamban.

Tetapi mirip dengan bagaimana bank saya masih membenarkan tindakan untuk menahan saya selama empat puluh menit dengan menyalahkan gangguan atas karyawan yang bekerja dari rumah selama masa COVID (jujur…tetap!), saya tidak yakin alasan Snapchat benar-benar valid di sini. Tentu, semuanya turun, tetapi ada yang lebih salah dengan Snapchat yang seharusnya membuat investor khawatir.

Pesaing

Estimasi tersebut menyatakan bahwa “Komunitas kami terus tumbuh, dan kami terus melihat keterlibatan pengguna yang kuat di Snapchat dan terus melihat peluang signifikan untuk meningkatkan pendapatan rata-rata per pengguna kami dalam jangka panjang”. Tetapi dari mana tepatnya pertumbuhan pendapatan per pengguna ini berasal?

Saya telah lama mempertanyakan mengapa Snapchat memiliki kemampuan untuk mempertahankan penggunanya, padahal Snapchat hampir tidak menawarkan apa pun yang tidak dapat dilakukan oleh aplikasi media sosial lain dengan lebih baik. Saya salah dalam pernyataan ini – seperti yang ditunjukkan grafik di atas, dengan harga saham yang terus naik hingga tahun ini.

Tetapi tampaknya seluruh pasar sekarang setuju dengan saya. Sekali lagi, bukan karena saya benar, tetapi karena kehadiran pesaing lain yang masuk tepat ke demografi yang ditargetkan Snapchat – TikTok.

Pikiran Analis

Analis UBS Lloyd Walmsley meringkasnya dengan baik, “pertanyaan kunci, dalam pikiran kami, adalah untuk memahami seberapa banyak dari masalah ini yang hanya merupakan kelemahan makro (di mana perusahaan pada akhirnya akan bangkit dari hal tersebut) versus dampak kompetitif dari TikTok (risiko lebih lanjut yang akan semakin meningkat).”

Saya cenderung percaya pada hal yang kedua. TikTok adalah platform raksasa dan ada begitu banyak waktu luang yang dapat dipinjamkan seseorang ke media sosial. Kemampuan TikTok untuk mengendalikan pengguna dan mempertahankan perhatian mereka secara ideal dibangun melalui algoritme video short-play yang adiktif, diputar pada rentang waktu minimal yang menarik perhatian remaja muda dan Gen Z muda lainnya. Snapchat, tampaknya, sudah menua.

Walmsley melontarkan argumen optimistis untuk Snapchat dengan menyatakan bahwa Snapchat “menekankan kemungkinannya” yang akan meleset dari batas bawah estimasi tersebut tetapi sepertinya tidak akan meleset dengan selisih yang begitu besar. Perhitungan sederhana menunjukkan bahwa pertumbuhan pada akhir kuartal bisa berada di bawah 10% (YoY), turun dari batas bawah estimasi sebelumnya, mengingat pertumbuhan awal sebesar 30% untuk kuartal tersebut”

Dia menyimpulkan dengan menyatakan UBS masih melihat “kecondongan risiko/imbalan yang menarik dalam saham SNAP dari sini, meskipun kami mengakui mungkin perlu waktu sebelum kasus bullish terjadi.”

Sisi Lainnya

Tetapi apakah ini benar-benar kasus bullish? Penurunan besar seperti yang terlihat minggu lalu seharusnya tidak terjadi karena kesalahan kecil seperti ini, setelah ledakan Q1. Ada faktor bearish lain di sini, dan pasar mulai menyadarinya.

TikTok bukanlah angin sakal makro yang akan segera hilang. Begitu juga dengan kebijakan privasi Apple yang diperbarui untuk pengguna iPhone, yang merupakan pukulan telak bagi Snapchat. Bahkan hambatan makro yang sebenarnya tidak akan hilang dalam waktu dekat. Ini bukan penghambat untuk Snapchat, ini adalah pukulan telak ke saham yang dinilai terlalu tinggi relatif terhadap kekuatannya di sektor media sosial.

Valuasinya saat ini sebesar $25 miliar (telah rebound sedikit sejak penghasilan naik dari $21 miliar) jauh lebih tepat daripada valuasi $135 yang diperdagangkan pada titik puncaknya tahun lalu, ketika saham teknologi naik ke level tertinggi sepanjang masa di seluruh pasar akibat pandemi. Sebut saya generasi boomer, tetapi saya tetap tidak akan mendekati SNAP.